Penurunan Komoditas Menyebabkan Kepanikan Investor

Pasar saham global anjlok cukup dalam kemarin diseret oleh kecemasan atas tingginya harga bahan baku material mulai menggerogoti bisnis dan anggaran rumah tangga dan menurunkan prospek pertumbuhan ekonomi.
 
Minyak mentah anjlok 3.3%, memotori perbalikan arah (reversal) dari reli yang terjadi sebelumnya. Sepanjang minggu ini terpantau minyak telah melemah 5.8%, setelah sempat melonjak ke rekor tertinggi beberapa bulan terakhir ditopang konflik Timur Tengah.
 
Pelemahan Oil terpicu oleh laporan EIA yang mewakili negara konsumen minyak terbesar dunia serta OPEC keduanya menyatakan permintaan telah melemah akibat kenaikan harga yang terlampau tinggi. Kekhawatiran baru atas kontaminasi fasilitas nuklir Fukushima Daiichi turut membebani performa saham.
 

Emas Kembali Menguat, ETF Merosot

Emas melorot tajam hingga ke teritori negatif seiring dengan aksi taking profit para investor setelah reli ke rekor tertingginya.
 
Terpantau kontrak emas berjangka untuk pengantaran bulan Juni diperdagangkan di level $1453.02 atau turun -0.69% sejauh ini. Harga komoditi lainnya di bursa pun turun melemah, minyak mentah anjlok -3.07% ke level $106.51 per barrel.
 
Tekanan di harga minyak serta pelemahan komoditi lainnya seperti tembaga dan palladium menyusutkan minat para investor ke emas. Investasi bersifat spekulatif di komoditas telah mencapai level tertinggi beberapa minggu terakhir ini seiring dengan rangkaian krisis geopolitik di Timur Tengah serta situasi darurat nuklir Jepang.
 

Goldman Sachs Dan IEA Terus Cekik Minyak

Minyak mentah berjangka A.S yang diperdagangkan di bursa NYMEX terus tertekan di kisaran $106 per barel terutama akibat dibebani “warning” dari Goldman Sachs dan pihak International Energy Agency (IEA).
Goldman Sachs memperkirakan minyak mentah bisa jatuh menuju level $105 hingga bulan mendatang, setelah merekomendasikan di hari Senin lalu bahwa pihaknya sudah tidak melakukan perdagangan pada sejumlah komoditas termasuk pada minyak mentah A.S.
Sementara merosotnya harga minyak mentah makin diperparah oleh aksi jual masif setelah pihak International Energy Agency (IEA) menjelaskan bahwa tingginya harga minyak dunia mulai menekan dan menghambat pesatnya laju pertumbuhan ekonomi serta telah mengikis permintaan terhadap bahan bakar.
 

Minyak Jauhi High 2,5-tahun

Kontrak minyak mentah merosot hari Selasa, tetapi masih berkisar disekitar tingginya 2.5 tahun seiring resiko geopolitik naik ditengah ketegangan di Libya,di Yaman dan tertundanya pemilu di Nigeria terus mendukung harga.
Data AS minggu lalu menunjukkan tingkat pengangguran terendah dalam 2 tahun juga mendukung ekspektasi permintaan minyak di AS, mendukung kenaikan harga.
 
Data persediaan pemerintah dan industri minggu sebagai sebuah perkiraan menunjukkan adanya kenaikan sebesar 1.4 juta, penurunan persediaan bahan bakar bensin sebesar 1.9 juta barel dan kejatuhan persediaan produk distilasi sebesar 200,000 barel, menurut sebuah poll yang dilakukan Reuters. Di NYMEX, harga minyak mentah berada di $108.25 per barel, turun 22 sen.

(sumber : monex news)

Emas , Perak Terkerek Naik Ditengah Kekhawatiran Inflasi

Emas ditutup dekat level $1,432 hari Senin, seiring investor cemasan mengenai inflasi dan pelemahan dollar terhadap euro setelah pasar mengantisipasi kenaikan suku bunga oleh ECB.

"Emas terangkat oleh naiknya ekspektasi inflasi ditengah kuatnya perekonomian dan tingginya harga minyak. Di lain pihak, kenaikan suku bunga ECB membantu menekan dollar," ucap Bart Melek, kepala strategis komoditas pada TD Bank Financial Group. Emas juga mendapat dorongan naik dari kecemasan beberapa negara di zona Eropa seperti Portugal dan Irlandia yang terbelit masalah hutang pemerintah, dan juga keresahan di Timur Tengah dan Afrika Utara. Kenaikan harga minyak dan bahan pangan juga membantu menambah daya tarik emas sebagai alat lindung inflasi.

Kekhawatiran atas inflasi global terpicu oleh harga minyak mentah dunia yang menyentuh titik tertinggi 2,5 tahun telah mendongkrak permintaan terhadap emas dan terutama perak yang berhasil menyentuh level puncak 31 tahun.
Terpantau harga emas diperdagangkan pada level 1,434.50 atau naik 0.41%, sementara Perak di level 38.42 atau menguat 1.67%.